PERTEMUAN MAHASISWA YANG ANEH
Saya
baru menyadari akhir-akhir ini pelajar
Indonesia, khususnya mahasiswa yang aku temuain di pertemuan BEM di Bandung yang
sedang membahas isu Pilkada ini punya pikiran
dangkal yang mau buru-buru aja. Masih aneh aja kalo ada negara yang punya
kualikasi pendidikan untuk menyeleksi calon pemimpinnya. Semua negara maju gak
akan pernah lagi membatasi calon pemimpinya dengan batas akademis formal yang
sbenarnya bukan melanggar hak asasi saja, tapi juga
merugikan bangsa itu juga.
Di
pertemuan BEM bandung ini, kita sedang membahas tentang pemimpin ideal yang
akan kita ungkapkan ke masyarakat. Beberapa syarat yang telah kita bahas dan
sepakati adalah :
1. Pemimpin
tersebut tidak pernah dan tidak akan pernah terkena “kasus”
(entah gimana caranya mahasiswa jadi peramal, sedangkan jurusan yang tersedia
adalah astronomi dan bukan astrologi),
2. Bertakwa
terhadap tuhan yang maha esa (well,,, bererti orang atheis
gak akan pernah jadi presiden, udah melaggar hak juga gak sih? )
3. (Sumpah, ini yang sebenarnya saya
tentang tapi mau gak mau saya sepakatin Cuma gara-gara saya yakin walau argumen
saya yang paling logis tapi mereka gak akan sepakat entah kenapa… apakah karena
mereka memang belum siap dengan kelogisan macam itu atau karena pembahasan
mereka tentang materi memang belum cukup) Calon pikada minimal berijazah S1. (bayangkan,
mereka tadinya sepakat bahwa calon pilkada minimal berijazah S2, wah, menurut
saya itu semakin menutup peluang kemungkinanan manusia-manusia berkualitas. karena
sudah yakin dengan karakter peserta sidang yang saya lihat pasti menolak, saya
langsung ganti mengusulkan bagaimana jika S1 saja. Dengan argument ada
kemungkian kita merusak keidealan calon pemimpin kita sendiri dengan pembatasan
akademis yang menurut saya aneh ini)
4. Abis itu saya lupa……
Itulah
anehnya, kita yang ada di pembahasan Pilkada Bandung ini kan akan mengampanyekan calon
pemimpin ideal yang telah kita sepakati ini, tapi menurut saya, dengan
memberikan batas akademis, kita tidak mengkampanyekan pencalonan yang ideal.
Seharusnya mahasiswa dapat memberikan contoh sesuatu yang tidak melanggar HAM, supaya
,masyarakat dapat belajar untuk mengenal hukum yang berdasarkan HAM. Dengan memberikanpembatasan ini, dengan alas
an kita juga bisa dapat mengkampanyekan tentang pentingnya pendidikan
(sepertinya tidak perlu begini juga caranya mengkampanyekan pentingnya
pendidikan, ada banyak cara dong… ini malah seperti mengkampanyekan ‘lupakan
saja HAM, kita cari pemimpin berkualitas sesuai dengan akademisny’, yang menurut
saya belum tentu bisa didapat dengan pembatasan akademis karena pemimpin itu
tidak hanya berteori duduk di bangki kuliah. Pemimipin itu kerja praktek,
melatih sensibilitas, kemampuan menyelesaikan masalah, menghaddapi masyarakat,
dan semua itu dapat dilatih dengan berorgnisasi. )
Sepertinya kita
inilah yang membuat masyarakat mencari pemimpin yang tidak ideal dengan cara
yang tidak ideal. Membuat masyarakat melihat sebelahmata dengan melihat mana
calonnya yang berpendidikan tinggi saja. Bukan programnya. Membuat masyarakat
lupa tentang pentingnya HAM yang seharusnya dapat kita, mahasisw, contohkan
karena mahasiswa biasanya mendapatkan informasi terntang apapun lebih mudah.

Comments